Berita Nganjuk Hari Ini : Mega Proyek Bendungan Kali Beng Terancam Gagal

memo 9 september 2013

memo 9 september 2013Berita Nganjuk Hari Ini : Mega Proyek Bendungan Kali Beng Terancam Gagal
Warga Tolak Di-relokasi

Nganjuk, Memo
Rencana pemerintah untuk mengaktualisasikan bendungan terbesar di Jawa Timur, di Wilayah Kecamatan Jatikalen, Kabupaten Nganjuk terancam gagal. Hal ini setelah warga di Desa Pule, Kecamatan Jatikalen dan Desa Klithih, Kabupaten Jombang menolak direlokasi.

Menurut salah satu pejabat Bappeda Nganjuk bidang penelitian dan pengembangan (Litbang), Sarno, masyarakat belum menyadari manfaat bangunan bendungan tersebut. Masalahnya, mereka rata-rata masih berpedoman kepada anggapan dari orang-orang di sekitarnya agar tidak mau dipindah dari lokasi yang bakal dibangun bendungan seluas sekitar 1.036 hektare tersebut.

“Awalnya dulu mereka enak diajak bicara, tapi tiba-tiba pada pertemuan terakhir (07/09-red) menolak mentah-mentah,” terang Sarno usai memberikan sosialisasi di hadapan warga Desa Pule dan Klithih tersebut.

Sosialisasi itu sendiri dilaksanakan oleh Bappeda, asisten perekonomian, didampingi oleh Camat Jatikalen dan kepala desa setempat. Masyarakat beranggapan, setelah dipindah, pemerintah tidak akan menepati janji-janjinya dan membuat kehidupan mereka tidak akan lebih baik.

Padahal, menurut Sarno, bendungan yang diperkirakan terbesar di Jawa Timur tersebut jelas-jelas diperuntukkan bagi kesejahteraan masyarakat Nganjuk dan Jombang.

Rencananya, bendungan Kali Beng tersebut memiliki fungsi ganda.

Selain untuk irigasi di dua kabupaten, yakni Nganjuk dan Jombang, juga dapat dimanfaatkan untuk sumber penghasilan yang lain. Sehingga masyarakat tidak hanya menikmati air bendungan untuk pekerjaan sawahnya, tapi dapat dijadikan sumber penghasilan tambahan, seperti membuka lapak-lapak dan membuka persewaan kapal boat bila bangunan sudah terealisasi. “Rencananya juga untuk PLTA (pusat listrik tenaga air-red),” ujar Sarno.

Dalam penolakannya, masyarakat bahkan sudah membuat surat pernyataan agar tidak dipindahkan dan dibangun bendungan di atas lahan dua desa di tengah hutan jati tersebut.

Mereka sepakat, tidak menyetujui adanya bangunan bendungan dengan sistem bedol desa bagi seluruh warga Desa Pule dan Klithih. Pemkab Nganjuk dan Jombang sendiri terus berupaya agar rencana pembangunan bendungan terealisasi  meskipun butuh waktu relatif lama. “Memang butuh waktu untuk memberikan pemahaman pada warga,” ujarnya.

Hanya saja, Pemkab Nganjuk tetap optimistis proyek berkelas nasional tersebut bakal terealiasi. Masalahnya, pembangunan menyangkut kepentingan umum. Apabila ada masyarakat yang tidak menyetujui akan dibangun bendungan, sama artinya mereka tidak menyetujui pembangunan.  Untuk itu, biar pemerintah sendiri nanti yang turun tangan. “Kan payung hukumnya sudah ada,” katanya.

Untuk diketahui, rencana pemerintah membangun Bendungan Kali Beng di wilayah Kecamatan Jatikalen sudah melewati tahapan survey. Proses selanjutnya adalah sosialisasi kepada warga yang bakal terkena dampak pembangunan. Mereka bakal direlokasi ke daerah produktif tidak jauh dari lokasi bendungan. Selain tetap dapat menjalankan aktifitasnya, warga dapat menikmati hasil dari bendungan kelak. Mereka dapat mendirikan lapak-lapak atau pun membuka usaha lain. Selain itu, lahan di dua desa, Pule dan Klithih tersebut termasuk lahan tandus, tidak produktif untuk dijadikan lahan pertanian (gus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>